Ketika Dompetmu Hilang, Bagaimana Cara Mengurus Kartu-kartu Penting?

Beberapa hari yang lalu dompet saya beserta isi-isinya yang penting KTP, SIM, STNK, KTM, Kartu alumni, Kartu berobat, 3 ATM, juga foto narsis saya bersama teman-teman SMA, .

Saya menjelma menjadi manusia yang tidak punya identitas ketika saya kehilangan kartu-kartu itu. Tapi sebenarnya itu bukan hal yang terpenting. Saya oke-oke saja tidak beridentitas, saya sudah merasa seperti alien sejak dulu 😀 namun yang paling menyedihkan adalah kehilangan ATM, tidak bisa berbelanja itu rasanya sesuatu sekali.

Hal pertama yang saya lakukan saat dompet saya hilang adalah memblokir ATM saya agar tidak disalah gunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Pemblokiran dapat dilakukan via klik BCA, nomornya saya lupa, tapi bisa menanyakan langsung ke mbah google. Kita akan disambungkan ke operator setelah menekan nomor-nomor sesuai petunjuk. Operator akan menanyakan beberapa hal untuk konfirmasi, seperti nama lengkap, tanggal lahir, tempat lahir, alamat, jenis kartu ATM, nama gadis ibu kandung, dll. Setelah semua terkonfirmasi maka ATM kita bisa terblokir dan kita mendapatkan nomor id pelaporan. Saya menelpon operator sampai 3 kali karena gangguan jaringan. Dan harus mengulang menjawab informasi tersebut sebanyak 3 kali. Oke tidak apa-apa asal tabungan saya aman terkendali.

Selanjutnya saya, diwakilkan kakak saya mengurus surat kehilangan di polsek terdekat. Persyaratan yang harus dibawa saat melapor yaitu fotocopy KTP(untung saya masih punya copyan KTP lama saya), lalu buku tabungan untuk konfirmasi kehilangan ATM, serta BPKB motor untuk konfirmasi STNK. Setelah itu pak polisi akan mengeluarkan selembar surat kehilangan yang menyebutkan barang-barang apa saja yang hilang beserta lokasi kehilangannya. Surat kehilangan ini ada masa berlakunya yaitu sekitar 2 bulan.

Selanjutnya saya, dibantu ibu saya mengurus KTP di kelurahan. Ibu saya mengenal seseorang di sana, selanjutnya kami berhubungan dengan orang tersebut. Pengurusannya cukup mudah, kita hanya perlu menyiapkan fotocopy KTP lama (kalau ada), foto formal, dan tanda tangan di selembar kertas. Sekitar 2 hari KTP saya sudah jadi, namun bukan E-KTP seperti KTP saya yang hilang. KTP baru saya masih KTP lama, karena E-KTP masih dibuat pusat. Menurut ibu kelurahan itu, saya bisa mendapat E-KTP kalau nanti pengurusan E-KTPnya diserahkan ke daerah. Entah kapan. Tidak masalah, yang penting saya sudah menjadi manusia beridentitas.

Beberapa hari kemudian saya ijin libur kerja untuk mengurus pembukaan ATM yang saya blokir. Pengurusan bisa dilakukan di Bank BCA terdekat dengan membawa buku tabungan asli, KTP, dan surat kehilangan. Mbak customer service nya akan menanyakan beberapa hal lagi untuk konfirmasi, selanjutnya kita akan diberi ATM baru dengan pin baru. Biaya kartu ATM baru disesuaikan dengan jenis kartunya Silver, gold atau platinum. Biaya kartu akan langsung dipotong dari buku tabungan. ATM lama akan diblokir selamanya. Pengurusan cukup cepat karena saya pengunjung pertama hari itu. Saya sudah datang bahkan saat Bank BCA belum buka dan para staff masih melakukan briefing. Bank BCA buka sekitar jam 8.10.

Hari masih panjang, saya memutuskan untuk sekalian mengurus SIM saya di SatLanTas daerah randu agung gresik. Datang langsung parkir motor, lalu menuju tenda dimana ada petugas berseragam duduk untuk meminta keplek. Di tenda saya diminta memfotocopy KTP terlebih dahulu karena KTP asli akan ditahan dan ditukar dengan tanda pengenal keplek itu tadi. Selanjutnya saya menuju loket 2 untuk meminta formulir dengan menyertakan surat kehilangan dan fotocopy KTP, lalu saya diminta ke poliklinik terdekat untuk tes kesehatan. Di poliklinik yang berjarak sekitar 10 meter dari SatLanTas itu saya disambut oleh mbak-mbak yang duduk di meja kerja sambil makan batagor, serius. Nikmat sekali. Mbak itu menghentikan makannya begitu saya datang. Saya langsung menyerahkan map berisi formulir tersebut. Mbak itu mengetik-ngetik di komputer lalu keluar sebuah surat tes kesehatan. Tidak perlu kucek-kucek mata untuk tes penglihatan, tidak perlu takut jarum untuk tes golongan darah, tidak perlu buka sepatu untuk ukur tinggi badan atau berat badan, apalagi buka baju. Karena semua tes kesehatan tersebut tidak dilakukan. Tidak ada sama sekali tes kesehatan, dan mbak itu meminta biaya Rp 20.000 untuk selembar kertas yang hanya tertulis nama, kolom tinggi badan dan golongan darah kosong. Apa gunanya?

Selanjutnya saya menuju ke loket 1. Rupa-rupanya mengurus SIM yang hilang prosedurnya sama seperti perpanjangan SIM. Di loket 1 saya dikenakan biaya 75.000 seperti biaya perpanjangan SIM. Biaya untuk SIM baru sendiri sekitar 100.000 saya lihat di papan pengumuman. Lalu saya mengisi formulir yang ada di map dan menyerahkan ke loket 3, selanjutnya saya dipanggil untuk foto SIM. Di dalam ruang foto sudah menunggu polisi wanita yang sigap dan dengan suara keras memanggil kami satu persatu. Menyebutkan Nama, alamat, tanggal lahir, menyuruh kami tanda tangan, lalu mengarahkan posisi untuk foto. Tidak sampai 5 menit kartu SIM baru saya selesai. Biaya total untuk pengurusan SIM sekitar 95.000.

Selanjutnya saya menuju Samsat untuk menananyakan informasi tatacara duplikat STNK. Di loket 12 seorang petugas siap menerangkan. Saya diberi 1 lembar persyaratan untuk mengurus STNKm diantaranya adalah surat kehilangan, surat bebas tilang, surat bebas kriminalitas, lalu iklan di media cetak 3 kali terbit, dan banyak persyaratan lainnya. Sepertinya mengurus duplikat STNK butuh perjuangan yang lumayan panjang.

Advertisements

Move

Saya jarang menulis sekarang. Tidak ada waktu? Alasan klise! Tapi memang benar, pekerjaan di kantor setidaknya menyita 8 jam per harinya, lalu malam harus membantu pekerjaan ibuku di toko. Ada waktu seharusnya, tapi saya lebih sering menghabiskannya untuk tidur atau bermain tablet. Entahlah dunia literary saya seperti teralihkan. Pekerjan seperti menyita banyak waktu. Ditambah pikiran-pikiran yang membebani. Ditambah games dan social media pada tablet yang selalu menggoda. Puluhan buku yang saya beli menumpuk belum saya baca, biasanya saya antusias sekali. Satu novel tebal saya lahap dalam dua hari, namun sekarang? Tiga bulan berlalu dan saya tidak membaca satu bukupun. Tidak menulis satu cerpenpun, dan tidak berhasrat menulis puisi.

Saya ketakutan dengan kepala saya. Saya rasa dia bertumbuh ke bawah. Kualitasnya menurun. Semakin tumpul dan pelupa. Saya rasanya ingin mencuci kepala saya, saya rasa banyak kotoran menumpuk di sana. Ah!

Dulu saya menulis untuk melepaskan ide-ide di kepala dan kegelisahan di dada. Sekarang? Jika kepala miskin ide dan kegelisahan bahkan terlalu rumit untuk dituliskan, bagaimana?

Please move on! Tolong menjadi gadis baik seperti dulu! Banyak menulis, banyak membaca, memikirkan hal-hal penting. Hidup dengna ringan dan bahagia. Being oudsider, being silly, being fool, being stupid, being crazy it’s all doesn’t matter. Just walk in your way, and make sure that it’s the right way.

Tentang Kehilangan

Apa itu kehilangan? Bagi saya, kehilangan adalah lepasnya sesuatu dari tangan kita, dari pandangan kita, dari sentuhan kita. Dan kita tidak bisa menjamahnya kembali.
Siapa yang tidak pernah merasakan kehilangan? Saya kira semua orang pasti pernah merasakannya. Entah dalam bentuk apa manifestasi kehilangan itu. Barangkah? Seseorangkah? Atau sesuatu yang tidak berwujud.
Hari ini giliran saya merasakan kehilangan dompet. Dompet satu-satunya yang setia menemani saya sejak masa kuliah dulu. Dompet hitam dimana saya meletakkan semua barang berharga saya di sana. Seluruh kartu identitas seperti KTP, SIM, KTM lama saya, Kartu berobat, Kartu alumni, semuanya saya letakkan di sana. Dan kehilangan dompet rupa-rupanya bermanifestasi menjadi kehilangan identitas bagi saya. Sekarang saya merasa menjadi manusia tanpa identitas. Warga negara ilegal. 3 buah ATM pun lenyap bersama dompet hitam saya, Untungnya ATM itu sudah saya blokir dengan segera. Saya tidak bisa berbelanja untuk sementara. Kehilangan ini mungkin artinya berpindah tangan. Dompet itu hanya berpindah tangan dari genggaman saya ke genggaman tangan orang lain. Saya harus mengikhlaskannya.

Saya pernah kehilangan seseorang, ayah saya. Ah! Saya selalu ingin menangis bila mengingatnya. Lihat ini, air mata tiba-tiba saja menggantung di pelupuk mata saya. Kehilangan ini, mungkin artinya lepasnya ayah dari genggaman tangan saya, dari pandangan mata saya, dari sekitar saya, dan berpindah pada apa yang lebih dekat dengan Tuhan. Tapi ayah tidak benar-benar hilang, ayah tersisa di hati dan pikiran kami sebagai kenangan.

Saya pernah kehilangan pacar. Pacar saya pergi dari saya dan berpindah ke pelukan wanita lain. Inilah pertama kalinya saya merasakan rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai. Awalnya berat, tapi waktu dan kejauhan selalu membantu melupakan.

Kehilangan, dapat bermanifestasi menjadi kehilangan yang lainnya, yang tidak berwujud misalnya kehilangan ingatan, kehilangan kepercayaan diri, kehilangan keberanian, kehilangan cinta. Bagaimana menjelaskannya? Berpindah tangan kemana semua itu? mungkin udara yang mengambilnya? atau waktu? Entah!

Soe Hok Gie punya pendapat sendiri mengenai kehilangan, mahasiswa penggerak mapala UI ini mengatakan, “Kita tidak pernah memiliki apa-apa, kita tidak pernah kehilangan apa-apa.”

Well, saya masih berharap dompet itu akan berpindah tangan lagi pada saya, saya masih berharap saya masih bisa menjamahnya lagi. Saya masih berharap ‘orang itu’ akan terketuk hatinya dan mengembalikan, paling tidak kartu-kartu penting itu, agar saya tidak kehilangan identitas lagi. Tolong kembalikan identitas saya………