Kembali Ke Pulau Sempu (Part 2)

Well, setelah perjalanan penuh lika-liku saat pertama kali mengunjungi pulau sempu. Saya belum merasa kapok untuk kembali kesana lagi, hampir 4 tahun dan saya sepertinya merindukan perjalanan penuh liku-liku itu lagi. Maka jadilah saya mengiyakan tawaran teman kerja saya untuk kembali berkunjung ke pulau itu. Persiapanpun dilakukan, mulai dari hunting sendal gunung, me-list perlengkapan, sewa mobil, dll. Jauh-jauh hari kami sudah browsing-browsing dan bersiap-siap.

Setelah menawari semua orang di kantor alias pabrik, cuma enam ekor yang akhirnya fix jadi ikut. Maka kamipun memutuskan untuk menyewa movil innova. Kami berangkat sabtu malam sekitar pukulĀ  00.30 dari Gresik, dan sampai di Sendang Biru sekitar pukul 06.00. Saya langsung mencari toilet sesampainya di sana. Antrian toilet seperti antri sembako. Saya menunggu hampir 1 jam.

Mbak-mbak yang tidak ke toilet menuju Kantor Pengawas dan berfoto-foto di sana karena pendaftaran ijin masuk ke Sempu belum dibuka. Kamipun memutuskan untuk sarapan bekal yang sudah kami siapkan dari rumah. Sekitar jam 7 kami kembali ke kantor Pengawas untuk mendaftar. Rupanya sudah ramai antrian para ABG Alay maupun pecinta alam, kami sedikit terlambat sehingga belum terdaftar dan kami harus menunggu lama untuk mendapat ijin dan mendapat guide. Rupa-rupanya jumlah kami yang cuma sedikit (6 orang) menjadi salah satu sebab kenapa pendaftaran rombongan kami lama. Akhirnya kami putuskan untuk bergabung dengan rombongan para cowok-cowok dari Mojokerto. Ijinpun segera kami dapat dan Kamipun berangkat dengan mereka yang cukup kocak dan menghibur sepanjang perjalanan.

Kami patungan membayar guide dan sewa kapal dengan rombongan dari Mojokerto itu. Biaya sewa guide 100 ribu, sedangkan sewa kapal juga 100 ribu. Jatuhnya sekitar 20 ribu tiap orang.

Sekitar 10 menit kemudian kami tiba di teluk semut, kami segera meneruskan perjalanan menuju Segara Anakan. Kondisi jalan ternyata tidak seekstrim terakhir kali saya ke sana. Padahal sudah memasuki musim penghujan. Kondisi jalan masih lumayan kering. Tantangannya tinggal stamina, karena jalan menanjak lumayan sering, ditambah halangan pohon-pohon besar tumbang yang harus kami lewati. Di jalan kami berpapasan dengan beberapa rombongan yang sudah kembali. Kami juga menjumpai ada seorang cewek yang pingsan dan ditandu, mungkin kelelahan. Ada juga beberapa rombongan mengendong anak kecil. Tetapi yang paling banyak adalah ABG dan muda-mudi dengan kondisi prima. Kami pun sempai sekitar 1-2 jam kemudian (saya tidak terlalu memperhatikan waktu)

Tiba di Segara Anakan, ternyata pengunjung sudah begitu riuh ramai. Segara ini tidak lagi ekslusif. Kami segera merebahkan diri untuk istirahat sebentar, seorang mbak-mbak kantor merekam selfie dirinya yang kelelahan (di kemudian hari video rekamannya menghebohkan seluruh pabrik), mas-mas yang aktif dan juragan tambak langsung berlagak anak pantai dan menceburkan diri ke Segara. Sedangkan saya duduk-duduk mengeringkan keringat.
Rombongan dari Mojokerto terlihat kelaparan dan menyantap bekal yang mereka bawa dengan lahap. Setelah kering kami segera menikmati air tenang di Segara Anakan. Bila bosan, kami bermain-main pasir putih. Dua orang anak kecil lucu muncul, kakak beradik yang supel. Kami langsung berfoto ria dengan dua anak kecil itu.

Kondisi Segara Anakan saya lihat hari itu terlihat kotor, beberapa botol dan sampah berserakan akibat ulah beberapa pengunjung tidak bertanggung jawab. Ketika saya naik tebing untuk melihat laut, saya putuskan untuk turun lagi karena tidak tahan dengan bau pesing di tebing.

Sekitar pukul 12.00 rombongan kami sudah bosan dan kelelahan bermain. Akhirnya kami putuskan untuk kembali. Tak lupa kami mengambil foto rombongan untuk terakhir kalinya.

Perjalanan pulang tampaknya menjadi berat untuk mbak-mbak, saya sendiri tetap lincah dan berjalan di depan meski napas saya juga ngos-ngosan. Salah satu mbak-mbak kelihatan sangat kelelahan, mungkin karena kurang olah raga dan tidak biasa jalan sejauh itu. Cara jalannya menjadi aneh dan terlihat lucu.

Satu hal yang paling tidak saya sukai dari setiap perjalanan adalah penyakit motion sickness saya yang parah. Please tell me how to heal it…..

Well, mau kembali lagi ke Sempu?
Mau, tapi untuk pantai -pantai lainnya. Segara Anakan sudah cukup membosankan bagi saya.

Simak next post untuk melihat foto-foto……

Kembali Ke Pulau Sempu….

Pertama kali mengunjungi pulau ini pada Februari 2011 bersama rombongan teman kuliah, anak kelas D yang kompak sekali kalau acara-acara berpetualangan seperti itu. Waktu itu kami datang dengan rombongan yang cukup banyak. Mungkin lebih dari 10 orang. Sejak awal kami berencana untuk camp disana. Kebetulan kami mempunyai beberapa anggota pecinta alam sehingga mudah mendapatkan peralatan untuk camp seperti tenda, sleeping bag, carrier bag dan juga kompor kecil untuk memasak. Kami sudah mendapat list perbekalan yang harus dibawa seperti senter, jas hujan, air minum dll. Kami kira cukup, tapi ternyata…..

Berangkat dari vila seorang teman di Batu, kami berangkat dengan 2 mobil. Tiba di sendang biru pada jam…..saya lupa…yang jelas kami start jalan dari teluk semut sekitar jam 5 sore. Di teluk semut kami menjumpai beberapa bule yang sudah kembali, dan kondisinya sungguh kotor, lumpur menghiasi seluruh tubuh mereka (lebay dikit). Dan kami baru ngeh keadaan sebenarnya dari trek yang kita hadapi. Jalan berlumpur yang becek dan sulit dilalui. Rombongan kami sebagian besar cewek dan memakai sepatu yang seadanya. Bahkan sempat-sempatnya kami membawa gitar dengan kondisi seperti itu. Saya sendiri beruntung mendapat pinjaman sandal gunung dari teman kos saya. Kamipun berjalan pelan-pelan, memilih jalan yang bisa dilewati. Sesekali jatuh terpeleset. Hari pun semakin gelap. Gerimis datang. Perbekalan senter kami cukup minim. Satu senter kira-kira digunakan untuk 3 orang. Jadi kami bergantian menyenter jalan teman. Jalan kamipun semakin lambat. Di tengah perjalanan terjadi insiden pada salah satu rombongan kami, entah bagaimana kaki teman kami terluka terkena kayu. Darah bercucuran sepanjang perjalanan dari lukanya. Kami hanya bisa membebat lukanya dengan kain karena kejadian ini tidak kami perkirakan. Dan bagaimanapun kami harus melanjutkan perjalanan bila tidak ingin bermalam di hutan. Saya kebetulan berjalan di depan. Menurut cerita teman yang di belakang, darah teman saya yang terluka itu bercucuran sepanjang perjalanan. Dengan bersusah payah jatuh bangun di lumpur, sekitar pukul 21.00 kami akhirnya tiba di Segara Anakan. Kami segera beristirahat melepas lelah. Beberapa teman langsung menceburkan diri ke Segara yang tenang itu. Beberapa saat kemudian kami mendirikan tenda dan merawat teman yang terluka itu. Tidak banyak yang bisa kami lakukan, kami meminta tolong guide yang membawakan alkohol untuk mencegah infeksi pada lukanya. Malam itu kami masak mie goreng ramai-ramai. Di luar gerimis, kami berdesakan tidur dengan posisi duduk di tenda. Beberapa tidur di luar. Beberapa tidak tidur.

Paginya kami bermain-main di Segara Anakan, memasak mie, berfoto, menikmati air tenang di Segara Anakan. Teman saya yang terluka itu pulang lebih awal dengan dipapah seorang guide. Kami menyusul pulang beberapa jam setelah dia berangkat. Perjalanan pulang tidak sesusah saat berangkat. Perbedaannya hanya pada cahaya. Kami cukup cahaya siang itu sehingga bisa leluasa memilh jalan. Kami memilih jalan atas, bukan trek yang biasa dilalui karena trek yang biasa dilalui sangat becek kondisinya. Jalan di atas tidak becek tapi banyak duri-duri di akar ataupun batang pohon. Seperti biasa, saya berjalan di depan, mungkin diantara rombongan stamina saya lebih bagus, ditambah lagi sendal pinjaman yang sangat membantu. Teman yang terluka itu kami temui di tengah jalan, padahal dia sudah berangkat beberapa jam lebih awal. Ya..kasihan kondisi kakinya semakin buruk, tapi bagaimana lagi. Kami harus meneruskan perjalanan. Kami menunggu teman yang terluka itu di teluk semut. Seorang teman wanita tiba-tiba menggigil, mungkin kelelahan, untungnya kondisinya membaik. Kami membuat tempat peristirahatan sekenanya di teluk semut. Hari sudah mulai gelap ketika teman yang terluka itu sampai di teluk semut. Kami segera menghubungi kapal untuk menjemput kami. Kami langsung berbenah diri di kamar mandi umum di sendang biru. Setelah semua rapi, kami segera bersiap pulang. Tujuan utamanya adalah Rumah Sakit di Malang. Di rumah sakit, kami mendapat kabar kalau luka di telapak kaki teman kami itu sudah infeksi dan bernanah sehingga harus dioperasi. Kami segera menghubungi keluarga. Teman saya itu harus menginap di Rumah Sakit, sedangkan kami bertolak kembali ke vila. Sesampai di vila teman-teman saya baru merasa sakit dan lecet di kakinya. Kami bubuhkan obat sekenanya, ditambah krim penghilang nyeri yang kami oleskan di kaki kami.

image

Hampir full team

image

Hampir full team w

image

Menunggu ijin untuk menyebrang

image

Sempet-sempetnya bawa gitar

image

Berfoto ria

image

Daripada bosan menunggu

image

Berangkat untuk menyebrang...

image

Melasnya temanku. Perjalanan yang berat...

image

Buntelan buntelan

image

Camp yang jorok..dilarang meninggalkan apapun selain jejak, dilarang mengambil apapun selain gambar, dilarang membunuh apapun selain waktu

image

image

Narsis dulu di Segara Anakan

image

image

Menunggun di Teluk semut

image

image

Sejak perjalanan ini, setiap saya berjalan kaki saya selalu berfikir bahwa ini tidak ada apa-apanya. Kamu sudah melewati jalanan yang lebih susah dari pada ini. Well kita harus terus berjalan. Dan saya tidak kapok datang ke Sempu lagi.

Simak postingan berikutnya…..

Ma,

Ma, kadang kita harus terjun, kadang jatuh, kadang terluka untuk mengecap apa yang bernama pengalaman Ma. Biarkan segala kejatuhan dan keterlukaan itu menjadi pelajaran yang membuat anakmu ini menjadi pribadi yang lebih kuat. Tahu caranya bangun saat terjatuh, tau caranya menyembuhkan diri bila terluka. Bahkan antibodipun perlu dilatih, distimulasi.

Ma, kita tidak harus diam di rumah, untuk mencapai rasa aman, hidup yang konstan. Zona nyaman. Tidur. Tidak kemana-kemana. Tidak tahu dunia. Apa itu yang mama inginkan. Melindungi dengan cara memberikan jeruji yang mengekang langkah-langkah.

Ma, aku akan kembali ke Pulau Sempu lagi hari ini.
Aku butuh doa saja, bukan kekhawatiran-kekhawatiran.