Tentang Mata dan Kacamata

Tidak bisa dipungkiri kalau saya merasa sedikit khawatir dengan dunia buram yang dilihat mata saya. Ini bukan kata-kata kiasan, ini dunia buram yang sebenarnya. Mata saya tidak bisa melihat benda-benda jauh sejernih dan sejelas dahulu. Dalam jarak 3 m saja saya sudah tidak bisa melihat dengan jelas tulisan stiker Wisata Bahari Lamongan yang tertempel di lemari ibu saya. Kemungkinan ada 2 sebab  mengapa mata saya mengalami penurunan kemampuan melihat atau biasa disebut dengan mata minus. Pertama karena setiap hari, hampir selama 6 jam saya menatap layar komputer, dan ditambah lagi beberapa jam ‘mengencani’ tablet saya, yang sebenarnya untuk hal-hal yang tidak begitu penting seperti sosial media atau sekedar melihat-lihat koleksi online shop. Tablet ini sudah membuat saya kecanduan. Lepas sebentar saja seperti ada yang hampa. Akibatnya fatal, pertama dampak kepada mata saya, dampak yang secara langsung saya rasakan. Dan yang kedua adalah dampak waste time, yang sudah pasti tidak saya hiraukan. Namun, disisi lain tablet juga memberikan beberapa manfaat ssperti informasi dan update berita yang saya dapat. Dengan social media, saya tahu segala informasi terkini. Baiklah kembali ke topik awal tentang mata, sungguh tidak nyaman rasanya melihat benda-benda dengan tidak jelas. Kacamata mungkin solusi paling ampuh,namun sayangnya saya tidak begitu nyama memakai kacamata. Pertama, ketika saya memakai kacamata terus menerus dan saya lepas, tiba-tiba keburaman mata saya seperti bertambah parah, entah karena pikiran saya membandingkan dengan saat masih memakai kacamata, atau karena daya akomodasi mata saya terlalu ‘terlena’ saat memakai kacamata sehingga semakin mengalami penurunan kemampuan saat kacamata itu dilepas. Kedua, telinga dan hidung saya merasa sakit kalau lama-lama memakai kacamata. Ketiga, saya merasa jelek kalau memakai kacamata. Keempat kadang kacamata saya buram terkena napas saya sendiri. Empat hal sudah cukup membuat saya memutuskan untuk tidak memakai kacamata kecuali saya benar-benar membutuhkannya. Soal lensa kontak, saya tidak tertarii karena saya orang yang ceroboh dan lensa kontak seperti suatu hal yang sangat menakutkan bagi saya. Benda asing yang masuk ke organ rapuh bernama mata. Ini mengerikan bagi saya. Jadi lupakan tentang lensa kontak.
Jadi solusi paling tepat untuk semua ini adalah bagaimana pun caranya menyembuhkan mata minus ini dan meningkatkan kemampuan melihat saya. Termasuk mengurangi bermain tablet dan sering makan jus wortel. Bismillah, semoga berhasil.

image

Advertisements

My Pink Glasses

image

This little glasses save every detail I missed before.

Masih merasa amazing sama benda satu ini. Feel like it save my life. Tadinya merasa buram kalau lihat sesuatu yang agak jauh. Sekarang bisa lihat semuanya dengan jelas. Awalnya iseng ikut periksa mata di optic deket rumah pas nganter mama mbetulkan gagang kacamatanya yang rusak. Setelah diperiksa mbaknya “memvonis” kalau mata saya ini kanan kiri minus 1/4 mbakny menyarankan pakai kacamata tapi saya tolak karena saat itu saya masih malas pakai kacamata. Sampai akhirnya mata saya ini sudah tidak bisa berkompromi, tulisan di layar LCD saat meeting terlihat buram, padahal teman-teman yang lain oke-oke saja melihatnya. Saat itu juga saya bertekad untuk membeli kacamata.

Kamis kemarin ke optic lain, diperiksa mata lagi, hasilnya malah minus 1/2, akhirnya beli that cute pink glasses. Dan semua terlihat jelas sekarang, tidak terkecuali senyum dia yang manis.

image

How do I look when I wear my pink glasses…..

image

Flas Fiction : FK2015

Tahun FK2015, bukan tahun 2015 yang biasa kalian temui. Tahun itu adalah tahun anomali. Semuanya sama, kecuali hati manusia. Pada tahun FK2015, semua hati manusia diimitasi dan ditukar dengan hati palsu. Operasi penukaran hati ini sudah lumrah dilakukan bahkan di klinik-klinik kecil operasi ini sudah lazim. Dengan hati palsu itu orang-orang dapat terhindar dari depresi, luka hati, rasa bersalah, dan segala perasaan bodoh yang membuat orang jatuh. Efeknya luar biasa, di tahun FK2015, manusia bekerja tanpa terganggu, hidup tanpa air mata sama sekali, dan segalanya penuh tawa. Selama berbulan-bulan hati palsu ini berhasil memberikan efek positif. Sampai suatu hari dimana hati-hati palsu yang tertanam di tubuh orang-orang mulai berlubang. Awalnya lubang itu kecil, namun makin lama lubang itu menganga semakin dan semakin lebar. Hingga akhirnya hati palsu itu hancur tak berbentuk. Krisis terjadi dimana mana. Semua orang menjadi depresi, sakit hati, sedih, hancur dan entah bagaimana menggambarkan situasi yang sangat mengerikan ini. Dokter-dokter spesialis hati mencoba mengobati dan memperbaiki kerusakan hati palsu itu. Namun hasilnya nihil, dan yang lebih parah adalah hati asli mereka, yang segar dan merah merona juga telah busuk di tempat sampah. Orang-orang yang tidak tahan dengan lubang besar di hati mereka satu persatu mulai bunuh diri. Ada yang menabrakkan diri di rel kereta, ada yang terjun dari gedung, ada yang menegak racun serangga, dan juga segala macam cara bunuh diri yang tidak pernah terpikirkan. Begitulah, cerita bagaimana gagalnya hati palsu, dan dunia di tahun FK2015 pun berakhir tragis dengan matinya semua penduduknya dengan bunuh diri.

Hati palsu, jangan pernah meggunakannya.

#Randomwriting

Tentang Konsep Keadilan

Saya menemukan bahwa sebagian orang berbeda pendapat mengenai konsep keadilan. Apa yang bagi saya tidak adil, bagi mereka adil-adil saja. Dan apa yang bagi saya adil, mungkin tidak adil bagi mereka. Konsep ini mungkin pula hanya sekedar memperhalus ketidakadilan yang terjadi. Dengan merancukan konsep keadilan untuk ketidak adilan yang terjadi. Sebegitu ambigukah keadilan? Sebegitu absurd kah keadilan?

Barangkali begitu.

Pagi tadi saya berniat membeli nasi kresengan dan nasi pecel di warung langganan saya. Saya dan mama sedang malas memasak dan cara tergampang tentu saja membeli di warung. Mama sudah berpesan untuk membeli nasi dua bungkus.

Masih pagi namun warung itu sudah ramai seperti biasanya. Saya datang, menunggu dengan sabar orang-orang yang datang terlebih dulu untuk dilayani, sampai tiba (yang harusnya) giliran saya. Namun Ibu penjual itu dengan entengnya melayani dahulu beberapa orang yang baru saja datang dan makan di situ (tidak dibungkus). Saya diselat bukan hanya oleh satu orang, tapi beberapa orang. Saya jelas  DATANG TERLEBIH DAHULU. Saya kesal dan merasa teraniaya. Ibu itu sudah jelas sekali melanggar konsep keadilan yang saya percayai. Saya kecewa. Saya marah. Ingin sekali rasanya menceramahi Ibu penjual itu tentang konsep keadilan yang saya percayai, bahwa yang harus dilayani terlebih dahulu adalah dia yang datang terlebih dahulu, tidak perduli beli untuk dibungkus dan dibawa pulang ataupun dimakan disitu. Saya sungguh ingin melakukannya namun saya sedang marah dan saya tahu dalam keadaan marah kata-kata yang akan keluar seperti apa. Akhirnya saya menahan dan diam saja. Tidak ingin ribut. Tidak ingin cari masalah. Saya ingat betul ini bukan pertama kalinya keadilan yang saya percayai dicederai di warung ini, dahulu kejadian serupa juga pernah terjadi. Ibu itu, mungkin menganut konsep keadilan yang berbeda, konsep keadilan dimana yang makan di tempat harus didahulukan. Konsep yang jelas merupakan ketidakadilan di mata saya.

Apa keadilan memang sebegitu ambigu?

image

Look at that picture above, justice is so blind….

01042015 not an april mop