Bukan Kata Pertama

Aku tidak pernah tau akan mengenal kembali cinta.
Bukan pada kata pertama kita berjumpa.
Bukan pula pada kata kedua.
Kata ketiga.
Keempat.
Dan seterusnya.
Aku jatuh cinta setelah berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus kalimatmu yang membuatku percaya.

Dalam halaman dan lembar.
Kamu selalu ingin aku tuliskan.
Pada setiap senyum kecil.
Dan tangis getir.
Tawa riuh.
Dan duka berpeluh.

You know, you are so easy to be loved
As your name.

: Fakhrul Khabib

28102014

Advertisements

Dear self

Dear self,

Sorry for always do the same mistake
Sorry for always break my own promise
Sorry for never learning
Sorry for being so careless
Sorry for being unperfect
Sorry for always hurt you
Sorry dor my dumbness
Sorry for sorry
I know, just sorry  will never enough.

Pagi Kesebelas Bulan Desember dan Perempuan Itu

Tidak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
Dirahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.

Aku mengenalnya. Dia yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Desember dan perempuan itu lebih tabah dari apapun.

* * *

Perempuan itu akan terbangun pada pagi kesebelas bulan Desember. Dia akan menarik dua sudut mulutnya, menggeliat dan dengan wajah berseri-seri menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi dia akan menyenandungkan nada-nada yang hanya dia sendiri yang tahu. Dia akan menggosok dirinya lebih lama dari biasanya, menyabuni dirinya lebih banyak dari biasanya, dan mengguyur air lebih deras dari biasanya. Sepanjang hari ini dia akan melakukan semuanya secara berlebihan. Setelah selesai membersihkan diri dengan berlebihan, dia akan membongkar isi lemarinya demi mencari sebuah gaun berwana merah muda. Gaun yang  merupakan gaun yang terindah yang dia punya. Gaun yang hanya keluar sekali dalam setahun. Dia akan menyemprot sekujur tubuhnya dengan parfum yang sudah berdebu menunggu untuk dipakai, hari ini, hari kesebelas bulan Desember. Satu-satunya hari dimana perempuan itu ‘bangun’.

Artinya pada hari selain hari kesebelas bulan Desember perempuan itu akan berhibernasi sepanjang hari. Dia tidak lebih dari perempuan yang kosong dan kesepian. Melakukan segala aktivitasnya dengan mata yang hampa. Di hari selain hari kesebelas bulan Desember, perempuan itu berada di dunia, menginjakkan kakinya di tanah, tapi pikirannya melayang entah ke dunia mana. Tidak ada yang bisa menariknya kembali ke dunia nyata. Namun secara drastis semua itu akan berubah di hari kesebelas bulan Desember. Perempuan itu akan terbangun. Dia akan bangun.

Perempuan itu bernama Nalar, dan aku sama sekali tidak bisa menalar apa yang dia lakukan. Ya…nama perempuan itu Nalar dan kukira dia hanya sedang melarikan diri.

* * *

Pagi sekali perempuan itu sudah berada di sana. Tempat yang hanya berani dia kunjungi sekali dalam setahun demi menjaga kesakralannya, kesakralan moment pertemuannya dengan seseorang. Hari ini hari kesebelas bulan Desember. Dan dia akan menemuinya. Wajah lesu yang biasa perempuan itu tunjukkan tampak merona membayangkan pertemuan ini,  warna pipinya kini berubah dan tampak serasi dengan gaun yang dia kenakan. Dia mendudukkan dirinya di bangku taman dan menunggu.

07.00 Ini terlalu pagi. Aku yang datang terlalu awal. Aku mungkin terlalu bersemangat menyambutnya. Jam berapa dia akan datang?  Ya Tuhan aku terlalu bersemangat. Ini terlalu pagi dan aku sengaja.

08.00 Apakah di hari selain hari ini taman ini juga begitu sepi? Kenapa hanya aku yang duduk sendirian di sini. Menunggunya. Ini jantung kenapa berlebihan sekali hari ini. Sedari tadi berdegup seolah-olah akan berlari dari dadaku.

09.00 Akhirnya muncul juga satu orang setelah dua jam sendirian. Setidaknya badut itu bisa menemani desah napasku yang kalut. Setidaknya ada dua manusia bernapas di taman ini. Aku dan si badut berhidung merah itu. Bukan hanya bunga-bunga dan rerumputan.

10.00 Taman itu ramai sekarang. Anak-anak berdatangan mengerubuti si badut berhidung merah. Membeli balon, menikmati pertunjukkan, dan berfoto bersama. Khas anak-anak sekali. Ini terlalu ramai. Aku tidak suka.

11.00 Jam berapa dia datang? Jam berapapun aku akan menunggu

12.00 Panas! Matahari tidak ramah hari ini. Tapi aku masih akan tetap bertahan menunggunya. Aku mungkin akan mendapatkan warna kulit yang eksotis hari ini. Biarlah!

13.00 Dia lama sekali. Aku lapar. Badut di seberang sudah sepi. Sepertinya balon-balon nya sudah habis diserbu anak-anak tadi. Dan Hei! Badut itu sekarang iseng menatapku dengan ekspresi aneh. Aku membuang muka.

14.00 Bagaimana wajahnya setelah setahun tidak bertemu? Masihkah dia seperti dulu? Apakah dia berubah? Lebih tampan? Ah! Kapan dia datang?
Hmm! Dimana badut itu? Dia sudah hilang? Pulang?
Ah! Aku tidak peduli

15.00 Ah! Aku tidak bisa menahannya lagi, perutku sudah keroncongan minta diisi. Aku akan berlari sebentar ke toko cupcake di seberang. Dia pasti akan menungguku.

15.10 Sebuah surat beramplop putih tergeletak di bangku taman itu. Surat yang ditujukan untuk perempuan itu. Perempuan itu serta merta berlari ke sekeliling taman, mencari lelaki yang meletakkan surat itu. Lelaki yang dia tunggu. Perempuan itu terus berlari dan seperti orang gila terus meneriakkan nama lelaki itu. Lelaki yang dicintainya. Lelaki yang tetap berada di hatinya meskipun mereka hanya bisa bertemu sekali dalam setahun. Tanggal sebelas bulan Desember. Tepat saat ulang tahun perempuan itu. Dan baginya, kado terindah adalah pertemuannya dengan lelaki itu. Tapi tahun ini, kenapa dia hanya menemui sebuah surat. Bukan pertemuan yang biasa, yang seperti tahun-tahun sebelumnya yang mereka lewati. Perempuan itu ambruk di bawah pohon. Kecewa dan kelelahan. Dibukanya surat di tangannya dengan putus asa.

Aku menyebutnya ‘menyulam kejauhan’. Saat aku
melebarkan sekian jarak. Saat aku memilih jalan yang
terjauh untuk sampai padamu. Saat keterasingan begitu
lebar aku bentangkan. Saat aku menolak berbicara padamu lagi.

Senja masih sama. Keterpaduan warna yang sulit
disangkal keharmonisannya. Semburat merah yang
tumpah, kelabu yang melingkupinya, ungu yang tak
membuat jenuh, dan kuning yang indah terpadu.
Malam masih sama. Masih tentang kegelapan yang coba
dikalahkan. Dengan bintang-bintang. Dengan lampu-
lampu. Dengan cahaya. Masih tentang kesunyian yang
biasa. Pejaman mata. Serta mimpi-mimpi yang
berterbangan di udara.

Tapi ada yang sudah berbeda, dan itu adalah kita. Aku telah menjadi sesuatu yang lain. Seperti api yang tidak
boleh disentuh jika tidak ingin terbakar dan melepuh
luruh. Aku bukan lagi air yang mengalirkan percikan-
percikan menenangkan dalam rongga dadamu. Aku telah
menjelma menjadi semacam kegelisahan bagimu. Dan
semua ini kukira tidak layak lagi dipelihara.
Cinta yang kita kira selamanya. Kisah yang kita kira nyata. Ternyata semua itu tidak lebih dari sekedar fatamorgana. Ilusi-ilusi yang tak ada tapi terus kita percayai.

Dan aku tahu jatuh itu sakit. Maka kamu mengalami kejatuhan itu bila kamu masih terus bersamaku.
Aku tidak ingin lagi kita menjadi buta. Kegelapan yang aku bawa cukup sudah. Aku tidak ingin lagi kau  menggapai-gapai ke segala arah tanpa kamu tahu yang kumu tuju ternyata semu.
Dan aku memilih kediaman ini, keasingan ini. Dan
kejauhan ini.

Aku tidak bisa lagi singgah. Di taman ini ataupun di hatimu. Aku telah memiliki persinggahan yang lain yang tidak mungkin aku tinggalkan. Seorang yang telah terikat secara agama dan hukum denganku, juga seorang bayi lucu yang adalah darah dagingku. Kita sama-sama tahu hari ini akan segera datang. Perpisahan ini. Maaf aku harus membuatnya lebih cepat dan tanpa konfirmasi.

Kamu harus hidup lebih baik dari hari-hari biasa. Kamu harus melanjutkan hidup.

Firman

Perempuan itu tidak bisa berhenti mengeluarkan airmata. Seluruh dunia seperti runtuh. Satu-satunya dunia yang membuatnya hidup kini meninggalkannya. Melanjutkan hidup? Bagaimana bisa. Bahkan sekarang dia tidak punya sedikitpun tenaga untuk berdiri dan pulang ke rumah.

Badut berhidung merah yang tadi menghilang tiba-tiba muncul di hadapanku. Memperhatikanku dengan ekspresi yang aneh. Dan aku merasa sangat mengenalnya.

22/12/2013