Book Review: Critical Eleven

Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Tebal: 330 halaman
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015

Critical Eleven, sebelas menit paling kritis di pesawat -tiga menit saat take off dan delapan menit saat landing- karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.

Ale dan Anya bertemu pertama kali di pesawat, dan garis nasib mempertemukan mereka. Merek duduk bersebelahan dalam perjalanan Jakarta-Sydney. Dan di pesawat itulah segalanya berawal antara Ale dan Anya.

Segalanya berlanjut. Mereka berdua memutuskan menikah and being perfect couple through their long distance relationship, karena pekerjaan Ale yang mengharuskan dia tinggal di kilang-kilang minyak dalam waktu lama. Yeah, they are perfect couple until one tragedy that ruin it all.

Tragedy itu membuat Anya kehilangan kepercayaannya pada Ale, dan Ale harus berjuang mendapatkan kembali kepercayaan Anya pada dirinya.

Banyak teori yang membahas seberapa besar kapasitas otak kita, tapi tidak ada yang pernah membahas kapasitas hati. (Halaman 248)

Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita. (Halaman 252)

Ya, Ika Natassa selalu berhasil. Ya…selalu berhasil membuat setiap orang yang membaca novel-novelnya masuk dan ikut merasakan apa yang tokoh utama rasakan. Saya sudah pernah membaca beberapa Novel karya Ika Natassa sebelum ini, seperti Very Yuppy Wedding, Divortiare dan Twitvortiare. Dan semuanya memberikan sensasi yang sama. Ika Natassa selalu hebat dalam menyajikan romantic love story yang rumit dan harus diuji dengan segala problematika cinta yang berliku-liku.

Penulis yang seorang banker ini mempunyai gaya bercerita yang khas, ringan dan mengalir serta mudah dicerna. Gaya penulisan yang memakai dua sudut pandang, yakni sudut pandang Ale dan Anya membuat gamblang apa yang dirasakan para tokoh. Saya suka quote-quote atau kutipan-kutipan pesan baik dari film atau buku yang selau diselipkan Ika Natassa dalam setiap novelnya.

Well, dari segi cover, buku ini cukup sederhana tapi warnanya yang cerah dan tulisan “National Best Seller” akan menggiring para booklover untuk meraihnya di toko buku. So, selamat membaca kisah  Ale dan Anya.

image

Book Review: Cinta Berkalang Noda

Judul : Cinta Berkalang Noda
Penulis : Mira W
Tebal : 335 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2000

Bagaimana rasanya dicintai dengan kasih sayang begitu besar oleh suami?
Bagaimana rasanya sangat dibenci oleh ibu mertua?
Bagaimana rasanya membesarkan seorang anak yang bukan anak kandungnya?
Bagaimana rasanya menanggung beban masa lalu yang seharusnya tidak perlu ditanggung?
Maka tanyakan kepada seorang Irna.

Irna mencoba memulai kehidupan barunya dengan Dokter Elman yang sangat mencintainya, meninggalkan masa lalunya yang buruk dengan mantan suaminya, Amran.
Bersama Dokter Elman, Ibu Dokter Elman dan juga Rian -anak Amran dengan wanita lain, Irna mencoba menjalani rumah tangganya dengan bahagia meskipun tidak sempurna.
Namun masa lalu Irna kembali mengusik tidak hanya Irna tapi seluruh keluarganya. Dimulai dengan perebutan harta warisan keluarga Amran hingga pembalasan dendam Ardi.
Pembalasan dendam yang merubah drastis kehidupan Irna. Ardi memperkosanya bersama dua temannya pada suatu malam paling mencekam.
Dan peristiwa itu menghantui Irna disepanjang hidupnya, apalagi ketika Irna harus mengandung janin hasil kebejatan pemerkosa, dan harus melahirkannya.
Penderitaan Irna tidak sampai disitu, lika-liku kehidupan Irna masih berlanjut.

Buku karangan Mira W ini tau-tau sudah berada di rak buku saya. Saya sema sekali lupa pernah membelinya. Kebiasaan buruk saya memang. Gemar mengumpulkan buku dan sedikit membacanya. Ya, dari penampakannya buku ini saya beli bukan dalam keadaan baru. Mungkin saya temukan di tumpukan buku yang dijual di Jalan Semarang, Surabaya. Tempat favorit saya berburu buku. Dan tiba-tiba beberapa hari yang lalu timbul hasrat untuk membacanya.

Nama Mira W sendiri sudah tidak asing di telinga saya. Beliau cukup terkenal sebagai novelis tapi saya belum sekalipun membaca karya beliau. Saya ingat seorang teman saya mengoleksi buku-buku Mira W, dan itu salah satu faktor yang membuat saya penasaran untuk membacanya.

Dan setelah tuntas membaca komentar saya adalah “Seperti melihat kembali sinetron tahun 2000-an.” Dan saya masih ingat, meskipun saat itu  pada saat  masih SD-SMP tapi di layar kaya saya pernah menyaksikan sinetron yang diadaptasi dari Novel Mira W. Penderitaan yang sungguh menyiksa dari tokoh utama dan tokoh antagonisnyang sangat antagonis. Novel ini menggambarkan latar kehidupan yang mungkin saja dapat benar-benar terjadi pada kehidupan nyata. Tapi saya yakin tidak ada yang mau jika benar dia mengalami kehidupan seperti Irna. Mira W bertutur dengan alur yang lancar dan membuat pembaca digiring untuk bertanya-tanya bagaimana cerita selanjutnya.

Cover buku ini adalah setangkai bunga, yang saya tebak adalah bunga anyelir. Nama Anyelir merupakan nama salah satu tokoh di novel ini. Tokoh yang cukup penting tapi tidak saya sebutkan di atas secara terperinci karena saya ingin pembaca menduga-duga, penasaran dan akhirnya ingin membaca sendiri buku ini. Saya sarankan jangan membaca review cerita pada cover buku ini. Saya beruntung tidak membaca review cerita pada covernya lebih dulu sehingga masih merasakan sensasi kejutan-kejutan akan cerita selajutnya. Review cover buku ini terlalu gamblang menggambarkan cerita, dan itu cukup mengganggu karena semacam spoiler yang kelewatan.

Namun jika anda punya waktu luang, tidak ada salahnya mencoba membaca buku ini dan rasakan bagaimana rasanya menjadi Irna.

Selamat membaca

Gresik, 02112015

Ya, sudah bulan November tapi cuaca masih begitu panas dan gersang. Saya rindu hujan.

image