Puisi yang Tidak Tahu Akan Kemana

Di luar hujan sayang.
Apa kau tetap akan datang,
meniti jalanan yang tergenang?
Apa kau akan tiba dipintu rumah,
Dengan rambutmu yang basah?

Aku sudah menghitungi,
pada detik keberapa kau datang nanti.
Aku sudah mengira-ngira kita akan melakukan apa.
Selain membungkusi dahulu sepi yang kupelihara berhari-hari dan membuangnya di belakang rumah tentu saja.

Jikalau hujan masih ingin jatuh dan singgah, kita bisa membawa satu payung. Cukup satu. Kita berdua di bawahnya.
Bergandengan tangan selamanya.
Itu saja.

Advertisements

Sekelumit Rumit

Hari ini hidup begitu rumit.
Serumit saat kamu menjadi kritis namun dikatakan teoritis.
Kita punya kepala masing-masing dan itu membuat bising.
Dan memang benar kita tidak akan benar-benar tahu rasanya menjadi orang lain sebelum kita hidup di bawah kulitnya dan bernapas dengan paru-parunya.
Kita tidak pernah tahu siapa lebih benar dari siapa.
Siapa lebih bijak dari siapa.
Usia bukan jaminan.

Mulut

Kabar tidak pernah diterbangkan angin, dia dimuntahkan oleh mulut

Orang akan berbicara apa saja yang mereka mau,
Di balik matamu sekalipun.
Entah madu, entah bisa.
Kamu tidak akan tahu
Dan seandainya kabar itu sampai di telingamu.
Maka kamu hanya bisa tersenyum

(getir)