Jarak

Tidurlah yang nyenyak kesedihan, keresahan dan kesalahpahaman.
Esok akan kau temukan aku diam.
Menggarisi kembali jarak.
Berapa kejauhan yang berhasil kita tanam semalam?

Gresik, 19012016

Advertisements

Mungkin Fiksi

“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut tidak bisa membahagiakan kamu.”
Dia tidak tahu. Aku lebih takut. Seribu, sejuta kali apabila tidak bisa membahagiakannya.
“Asal kamu mencintaiku, aku akan selalu berbahagia.” Jawabku.

Kemudian kami diam-diam mengemas senyum dari bibir masing-masing.

Love can be this sweet.

Kupu-kupu Merah di Kepalamu

Sejujurnya aku marah, kecewa, takut, tidak rela, atau apapun sebutannya. Yang jelas perasaan-perasaan itu terakumulasi dalam satu kesimpulan, aku tidak suka!

Kupu-kupu merah itu sudah lama aku ketahui. Kamu sudah sering menceritakannya, bahkan terlalu sering menurutku. Kamu suka menyambung-nyambungkan cerita lain dengan kupu-kupu merah itu. Kupu-kupu merah itu pasti sangat membekas dan sangat istimewa di ingatanmu. Begitukah?
Namun menurut cerita yang aku dengar darimu, kamu akhirnya memutuskan berpisah dan meninggalkan kupu-kupu merah itu.

Aku kira kamu sudah benar-benar meninggalkannya dan melupakannya. Terutama  saat kamu menemuiku dan memberikan satu ikat bunga dan janji-janji.

Tapi aku salah, kupu-kupu merah itu masih berputar-putar di sekelilingmu, tanpa aku tahu. Tanpa aku melihatnya. Entah aku yang bodoh atau kau pintar sekali menyembunyikannya. Kamu hapus semua jejak-jejak dan baunya. Aku tidak tahu, walaupun terkadang ada sisa-sisa jejak kupu-kupu merah itu aku temukan di rambutmu.

Pernah aku menangis saat menemukan jejaknya di kepalamu. Aku tidak tahu kenapa aku mudah sekali menangis. Mungkin kantong air mataku sudah bocor. Yang jelas, aku tidak baik-baik saja. Aku tidak suka!

Aku katakan padamu. Bukan aku membenci kupu-kupu merah itu, bagaimanapun dia adalah makhluk indah yang mungkin tidak bersalah. Aku hanya tidak suka dia berputar-putar di sekelilingmu. Itu membuatmu menoleh ke belakang dan melihat si kupu-kupu merah itu terus-terusan.

Akhir-akhir ini aku melihat kupu-kupu merah itu menempel di kepalamu. Kamu memikirkannya setiap hari meski tidak kamu akui. Kamu mencarinya lagi dan lagi, bahkan dia mungkin ada di urutan pertama yang selalu kau cari. Apa yang ingin kamu temukan lagi padanya. Menyesalkah kamu meninggalkannya dulu? Sudah benarkah keputusanmu untuk datang kepadaku?

Meskipun kamu tidak pernah mengabaikanku, aku tetap saja tidak suka. Aku tidak suka, entah sudah berapa kali aku menyebut kata-kata ini. Semua ini bahkan muncul di mimpiku. Kupu-kupu merah itu, kamu, aku. Dan itu bukan mimpi yang indah.

Selesaikan dulu apa yang belum selesai. Lalu putuskan apakah kamu akan berjalan ke depan atau menoleh terus ke belakang?

Aku,
Kupu-kupu biru

Gresik, 01012016