ketika matahari mengambang tenang di atas kepala/ dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa/ yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah darimana/ SJD

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala/ dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa/ yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah darimana/ SJD

Advertisements

Cerpen: melankolia

Kau pasti sudah lama tahu, kelabu ini merumuskan formula yang sama. Kesedihan adalah penambahan berulang dari segala kenangan, luka, dan wajahnya.

Senja di barat mulai bertransformasi dalam berbagai spektrum warna. Kuning. Oranye. merah. violet. Kau masih tak beranjak dari halaman itu. Tempatmu melepas sulur airmata sekaligus tempat mengumpulkan kembali semua tawamu. Sekalipun tawa paling satir.

Angin sore terus saja memainkan ujung gaunmu yang sewarna dengan suasana hatimu. Kelabu. Entah kau sengaja menyelaraskan keduanya atau cuma kebetulan belaka. Tapi toh nyatanya tidak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini.

Ingatanmu tak putus dari wajah itu. Wajah dukamu. Wajah yang selalu kau bingkai pada pigura hatimu. Wajah yang kau rindukan sekaligus wajah yang ingin kau tampar tujuh kali. Wajah yang pernah memberikan cedera mata paling indah sekaligus menyakitkan.

Airmata lepas dari matamu mengikuti gravitasi. sebelum mengenal wajah itu, kau tak pernah berlama-lama bicara dengan duka. Kau dulu mengharamkan airmatamu jatuh. Tapi sekarang?

BERSAMBUNG……….