Za[permata]

Za, kau bilang memori sudah seperti permata yang kau tanam di otak dan hatimu. Kau mengelap tiap detail kilaunya, kau tak putus silau akan keindahannya, kau tak bosan memandanginya. Tiap waktu.

Aku penasaran permata macam apa itu. Sangat mahalkah? Apakah seperti yang biasa kulihat di Tipi-tipi? Apakah segemerlap yang dipakai para artis Hedonis itu? Kau tahu Za, aku belum pernah melihat permata secara langsung. Jadi permata macam apa yang menghuni hati dan otakmu itu? Aku semakin penasaran.

Za, aku hanya tau. Permata itu sangat penting bagimu. Bukan soal harga rupiah. Bukan!! Permata itu berharga lain. Aku yakin. Tapi sepertinya kau harus menjelaskan lebih lanjut padaku. Harga macam apa? Nilai seperti apa yang dimiliki permatamu?

“Kau tahu Chi? apapun bisa hilang. Tapi tidak dengan permata itu. Tak akan ada yang bisa mencurinya. Tak ada yang bisa merebutnya dariku. Permata itu, akan selalu menetap! disini dan disini” Kau menunjuk kepala dan dadamu.

Permata itu telah meluruh bersamamu Za. Aku menyaksikan sendiri bagaimana airmatamu mengambang saat melihat lapangan SDmu dulu. Apakah ini karna permatamu? Apakah permata itu pernah berkilau disana? Kenapa kau seakan luluh…luruh saat bercerita atau sekedar mengingat permatamu itu?

“Permata itu apa sebenarnya Za? Aku tak mengerti.” tanyaku padamu pada suatu sore dengan angin yang membelai. sepoi.

“Permata itu adalah wajah. Permata itu adalah mata. Permata itu adalah senyum. Permata itu adalah tingkah. Permata itu sesuatu yang sulit dicerna tapi kau rasa. Dan itu semua hidup, disini dan disini. Kau kembali menunjuk kepala dan dadamu.

“Apakah ini tentang seseorang? permatamu itu seseorang?” aku berkata cepat sekali, beriringan denga keingintahuanku yang membeludak. Kau tersenyum. Misterius sekali, pikirku. Aku jadi membayangkan lukisan Monalisa.

“Ya…..Sudah hampir 10 tahun dia menetap…..”

“disini dan disini……” aku menyela sebelum kau teruskan.

“Waw!! 10 tahun? bagaimana bisa Za? Kau mencintainya?” Aku melihat matanya. Tatapan yang seperti itu. Selalu.

“Entahlah. Mungkin. Tapi belakangan aku curiga kalau aku tak mencintainya. Aku curiga aku hanya mencintai permata itu, kenangan itu, memori itu. Aku curiga aku hanya menyukai moment yang menyenangkan itu. Tapi entahlah. Apa aku benar-benar mencintainya. Sudah lama sekali aku tak melihatnya dalam nyata, meskipun tiap hari dia hadir.

“Aku tak menyangka, kau punya kisah seperti ini.”

“Kau yang pertama tau…….”

“Benarkah? Kenapa kau ceritakan padaku?”

“Karena aku percaya kau akan menjaganya.”

“itu pasti Za..”

“Terima kasih Chi..”

“Jadi, Apakah permata itu benar-benar berkilau…?”

“Ya…selamanya………..”gambar diambil disini

Sandikalapun mulai memburam…………….perlahan cahaya hilang dan gelap itupun datang.
Permata itu masih kau simpan. Dan tetap berkilau selamanya. Disini dan disini………….

011109
4uchi&Za

Cinta Kepada Hidup

aku akan mencintai hidup!
dengan segala derita dan bahagia
senyum dan airmata
mudah dan susahnya
pahit dan manisnya
gelombang dan datarnya
semua!! tanpa sisa! tanpa celah!!

bukankah mencintai memang harusnya seperti itu?
gambar diambil dari sini

“cinta kepada hidup, memberikan senyuman abadi.” (Laskar Pelangi-Nidji)

Adalah Bijaksana

jika jeruji mewakili satu keterpenjaraanmu, maka puluhan sudah kau mendekam dikelilinginya.

gamabr diambil disini

jika melepas merpati pergi menyiratkan kebebasanmu, maka telah beribu darinya lepas menciumi awan.

jeruji dan merpati itu ada.
gantian membentuk pusara disekelilingmu.
dan kadang kau memang harus terseret dalam arusnya tanpa bisa kau cegah.

tapi telah kau putuskan.
sekarang! bahwa mematahkan jeruji dan membebaskan merpati adalah bijaksana

301009
4I

aq jatuh cinta[lagy]

kenapa tak ada yang memberitahu sebelumnya!
kalau cinta seperti menanam bunga, lalu ia bertumbuh dan bermekaran memenuhi taman perasaan.

kenapa tak bilang heh!
kalau cinta berarti bibir yg tersenyum tanpa henti dan sensasi terbang melayang.

kenapa tak bilang!
bahwa cinta seolah meniadakan semua kecuali aq dan yang kucinta.

kenapa tak bilang heh!

sekarang aq jatuh cinta[lagy] dan sampai mati.

pada dia, yg bernama
‘LUCIA DWI ELVIRA’